Memulai berhijab Syar’i

Leave a comment

22/02/2016 by keluarga Oktafianus

JALANKAN (saja) YANG SEHARUSNYA, BAIK DIAM KETIMBANG BERKOMENTAR KOSONG

Bismillah.
Disaat yang lainnya sibuk mengurusi lekuk tubuh, meninggikan rok nya dan melebarkan pakaian sampai ke bagian dada… sebagai manusia yang sudah SANGAT CUKUP URUSAN DUNIAWI tapi sangat MISKIN URUSAN AKHIRAT saya memilih untuk memanjangkan hijab dan melebarkan pakaian, dengan bentuk tubuh yang saya miliki saya berharap bisa menjaganya hanya untuk suami saya… Dulu saya pernah mengumbarnya, mempertontonkannya sebagai konsumsi publik, dan membiarkan orang memujinya dan membesarkan kepala saya… ITU DULU, saya berharap semoga ilmu saya bertambah dan masa jahiliyah yang pernah saya alami tidak terulang lagi bagi saya dan orang-orang disekeliling saya… Aamiin YRA. Berhijab bagi saya yang pemula adalah ladang pahala, bersyiar lewat cara sederhana saya yang masih sangat sedikit ilmu agamanya. Saya pernah berkerudung buka tutup sampai 3 (tiga) kali dan selalu alasannya karena “saya harus membenahi hati, menjilbabi hati dan memperbaiki hati”, disaat kali saya berkerudung sekarang saya baru sadar, ternyata kalimat ; SAYA MAU MENJILBAB HATI atau sejenisnya ADALAH Alasan yang saya utarakan secara sadar saya jalani karena saya masih benar-benar belum siap meninggalkan kebiasaan saya :

1. Dengan Musik-musik keras, karena saya berpikir musik keras yang saya gandrungi itu adalah suatu yang membuat saya bersemangat dan dengan sadar ternyata membuat saya yang terlihat keren itu membiarkan orang-orang mengelu-elukan saya, memuja-muji kegemaran saya yang ekstrim dan menjadikan saya lupa, wanita-wanita sobat saya yang (pernah) CADAS DI ERA nya yang sekarang sudah berhijab bahkan bercadar pun tidak pernah perduli lagi dengan title “metal banget” yang pernah disemat untuk mereka. Saya pernah bertanya sama mereka, rindukah mereka dengan gitar atau bass yang pernah membuat mereka jadi sangat keren di jaman mereka berjaya, dengan sederhana mereka berujar :
Musik itu produk budaya, kita hidup di dunia tidak pernah tahu sampai kapan, syiarkan kebaikan mencintai agama dan ajaran yang seharusnya saja ketimbang membuang waktu mempropaganda budaya yang jelas tidak sesuai dengan seharusnya kita
Saya pribadi masih belum bisa sepenuhnya seperti ini, sebagai orang biasa yang menggemari heavy music dan bukan musisi kawakan saya sedang terus belajar menyikapi “kegandrungan terhadap musik keras bukan sebagai pelabelan terhadap pribadi”.

2. Nongkrong dengan kawan-kawan laki-laki perempuan sampai tengah malam, dikelilingi teman itu sangat menyenangkan, teman adalah keluarga kedua yang menenangkan, namun kebiasaan sampai larut itu seperti kompensasi karena saat itu saya senang berada di luar, saya lupa banyak yang perlu dibenahi di dalam, Alhamdulillah sesegera mungkin anak-anak saya terselamatkan dari ini semua, kini saya mantap merasa yakin keluarga adalah utama, teman bukan tidak perlu, tapi kadang kita lupa meletakkan skala prioritas.

3. Merokok, no doubt! sebagai perokok aktif kala itu, saya sungguh tidak bisa keluar dari lingkaran ini. Saat saya benar-benar memutuskan benar-benar hijrah, saat itulah semua benar-benar berubah.

mengutip dari blog (yang terhormat Mba Riri) dengan artikelnya yang nge-pas banget dengan yang sering saya alami di sekitar saya, menjadi moral boost bagi saya pribadi dan bersyukur Alhamdulillah saya tidak melakukannya dalam keadaan berhijab dan ditempat umum pula…

“…. tanggung jawab kita semua (terutama para muslimah) untuk menjaga kesantunan dalam Islam. Saya pribadi meyakini, ketika saya menjaga kesantunan dan hijab saya, sesungguhnya saya tidak hanya menjaga harga diri saya sendiri, tapi juga saudari-saudari muslimah lainnya yang juga mengenakan hijab, dan lebih dari pada itu menjaga nama baik ISLAM. Sekali saja saya berbuat atau bertingkah di luar koridor kebaikan dan kesantunan, orang lain bukan hanya menilai diri saya sendiri, tapi ironi nya juga men-generalisasi wanita muslimah lainnya. Contoh seperti kasus diatas tadi, mungkin hanya satu orang wanita berhijab yang “merokok”, tapi orang lain langsung berpendapat “sekarang hijab hanya jadi kedok saja, dan ga jaminan”, hanya karena 1 orang, semua wanita berhijab bisa jadi sasaran salah nya. Ibarat gara-gara nila setitik, rusaklah susu sebelanga”
~ Riri Artakusuma

3 (tiga) point diatas yang super nguji banget versi saya, ini saya ya, manusia biasa yang lemah iman dan minim ilmu, seiring waktu saya banyak melihat, mendengar, menyerap dan mengadaptasi juga menyaring semuanya dalam satu ‘perspektif berpikir BUKAN SECARA LOGIKA, tapi secara TAUHID”, karena saya lelah melihat semua secara logika, berusaha memisahkan antara Hubungan saya dengan Allah dan Saya dengan sesama makhluk.

Berhijab pun sekarang seperti “HILANG ARAH”, bagi pemula macam saya, polemik hijab fashion dan syari’i adalah kental jadi bahan pemikiran, saya sebagai manusia biasa menyikapinya dengan mencoba mencari dasar landasan yang sesuai dengan AL -QURAN, pun yang terjadi diderasnya informasi sungguh membutakan banyak pemikiran, saya jadi makin sadar…
Pantas saja Nabi Muhammad SAW bersabda : ” Kalian bagai Buih di Lautan!”
Muslim terpecah karena lusinan varian pemikiran, pembenaran, mengatasnamakan ‘hak’, sebenarnya bukankah sederhana saja…

“Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumurnya (Indonesia: hijab) ke dadanya….”
~ An-Nur ayat 31

jilbab syari Dulu di tahun 2003 an saya pernah berkerudung model ala-ala produkan dian pelangi, dimana bentuk tubuh saya masih terlihat, dan hijab nya benar-benar HANYA UNTUK menutup kepala, rambut tersumbul bagai punduk unta, biar ada aksen nya aja, gak polosan, Alhamdulillah belajar memilah pemikiran dan mulai membuka mata untuk membaca Fiqh, Hadist-hadist rujukan dan beberapa share opini… saya jadi sadar, kenapa saya dulu berkerudung macam itu, karena :

1. Saya dengan tubuh yang ideal sangat enggan menutupinya, saya senang kawan-kawan saya memuji badan saya yang slim dan gak perlu pantang en diet cukup olah raga saja. Saya sangat menikmati jadi role model kawan-kawan saya, bokong saya yang padat dan tidak turun, dada saya yang lumayan besar dan no cap, ditambah lekuk pinggang saya yang diukuran celana 28 yang bikin kawan-kawan pasti ‘ngiri’.

2. Saya hobby pakai high heels dan boots di tempat kerja, koleksi saya yang banyak membuat saya ingin semua orang tahu betapa keren dan mahalnya koleksi saya, dan paling senang kalau ada yang tanya beli dimana, most of them jebolan mall luar negeri, Astagfirullah, NORAK dan PAMER nya, sebisa mungkin saya pakai celana ketat dan tidak menutupi boots atau high heels saya, dengan celana yang senada sama kerudung atau tabrakan warna.

3. Saya suka Jeans Ketat dan Celana Ketat berwarna-warni.

4. Saya suka Jam Tangan Sport bermerk, saya gak mau atasan gombrong menutup Jam Tangan saya.

Sungguh bila di flash back, saya malu…

Akhirnya saya buka lagi jilbabnya sampai akhirnya mendapatkan hidayah lagi di bulan Juni 2015. Pun saya masih terus memperbaiki menuju benar-benar syar’i bukan hanya fashion, mengingat bidang pekerjaan yang saya geluti, saya jujur belum bisa memakai niqab (cadar), perlahan celana-celana ketat dimodifikasi dengan baju-baju longgar panjang, semua baju tersortir lagi, maxi dress ketat saya jadikan baju tidur saja, dukungan suami dengan membelikan aneka khimar juga gamis berupa-rupa membuat saya semangat. Dikantor kami menggunakan seragam, dan saya pun memutuskan memakai gamis untuk seragam kantor saya, semua kerudung, pashmina dan bergo diatas dada saya tidak gunakan lagi, kecuali bergo masih bisa dipakai buat dirumah ..tapi tidak dipakai keluar, saya bahagia sekeliling saya support, keluarga, saudara dan kawan-kawan yang tahu bagaimana dulunya saya, bergelimang dosa dan nista sangat membantu saya, banyak dari mereka pun mulai berhijrah, senang melihat kemajuan pemikiran yang terjadi disekeliling saya dan menimbulkan ambiance postif dan semangat berkeTUHANan yang sinergi dengan kehidupan sehari-hari dikenyataan dan sosial media.

Saya tidak habis pikir dengan sesama muslimah yang menganggap yang berhijab syar’i itu sebatas terapan budaya arab, bahkan berpikir yang berhijab syar’i itu ekstrim, apa salah bila kita berlomba-lomba menarik perhatian Allah, dengan mengikuti ajaran NYA yg sebenar-benar dan seharusnya. Saya pemula yang masih sangat belajar, saya lebih dulu pernah berkerudung pun bukan suatu kebanggaan, karena cara saya berkerudung dimasa lalu adalah cara yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya, semoga saya yang pemula ini bisa jadi referensi, belum pantas jadi tauladan tapi paling tidak BUKAN ROLE MODEL NEGATIF sehingga keinginan saya bersyiar dalam hidup ini berjalan sesuai dengan ajaran Islam.

‘Rasulullah SAW bersabda: “Bacalah Al-Qur’an selama hatimu bersepakat, maka apabila berselisih dalam memahaminya, maka bubarlah kamu!” (jangan sampai memperuncing perselisihannya).’ -Imam Bukhari Kitab ke-66 Bab ke-37: Bacalah oleh kalian Al-Qur’an yang dapat menyatukan hati-hati kalian.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Jalan HIJRAH Menuju Kaffah

Jazakumullah Khoir

  • 71,033 hits
Irmalida

Stairway to Jannah

ShinnichiVegaKimirossi

My Life - My Hobby - My Ambition

Teddy Oktafianus

Menjemput Hidayah Menuju Hijrah Kaffah

KELUARGA OKTAFIANUS

Bersama Hijrah Menjemput Hidayah

%d bloggers like this: