Bersama Hijrah Menjemput Hidayah

Leave a comment

09/02/2017 by keluarga Oktafianus

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai ALLAH terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
~ At-Tahrîm/66:6

Istiqlal Semula sebagai orang tua kami berpikir cukup Hijrah ini dimulai dari kami, anak-anak masih terlalu dini untuk Tasfiyah dan Tarbiyah, mengingat mereka pun sekolah masih di sekolah umum, tapi seiring waktu, kami merasa egois dengan membiarkan anak-anak tidak mendapat hak untuk tahu, mengingat kami juga sangat sadar, usia kita tidak ada yang tahu sampai kapan akan bertahan, untuk anak kami yang pertama (12th) dan kedua (9th) mulai kami gandeng bersama dalam Hijrah kami, dan untuk anak ketiga yang berusia 3 tahun yang bersekolah dijenjang RA/TK masih kami biarkan dalam kebiasaan umum yang mengakar di sekolahnya, sampai kelak usianya cukup untuk kami informasikan mana yang sesuai dengan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam ajarkan. Oiya, untuk informasi, berikut arti Tasfiyah dan Tarbiyah yang kami nukil dari buku Mulia Dengan Manhaj Salaf karya Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.

Tashfiyah dan tarbiyah adalah kata kunci bagi kembalinya kemuliaan Islam, dengan cara penerapan ilmu yang bermanfaat dan pengamalannya. Keduanya adalah perkara yang mulia, tidak mungkin kaum Muslimin dapat mencapai kejayaan dan kemuliaan kecuali dengan menerapkan metode ‘tashfiyah’ dan ‘tarbiyah’ yang merupakan kewajiban besar yang amat penting.

mulia dengan manhaj salafKewajiban yang pertama adalah tashfiyah. Yang dimaksudkan dengan tashfiyah (pemurnian) adalah:

1. Pemurnian ‘aqidah Islam dari suatu yang tidak dikenal dan telah menyusup masuk ke dalamnya, seperti kemusyrikan, pengingkaran terhadap sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala atau penakwilannya, penolakan hadits-hadits shahih yang berkaitan dengan ‘aqidah dan lain sebagainya.

2. Pemurnian ibadah dari berbagai macam bid’ah yang telah mengotori kesucian dan kesempurnaan agama Islam.

3. Pemurnian fiqh Islam dari segala bentuk ijtihad yang keliru dan menyelisihi Al-Quran dan As-Sunnah, serta pembebasan akal dari pengaruh-pengaruh taqlid dan kegelapan sikap fanatisme (jumud).

4. Pemurniaan kitab-kitab tafsir Al-Quran, fiqh, kitab-kitab yang berhubungan erat dengan raqaa’iq (kelembutan hati) dan kitab-kitab lainnya dari hadits-hadits lemah dan palsu, serta dongeng Israiliyyat dan kemungkaran lainnya.

IMG_20170121_064720_905Dan kewajiban yang kedua adalah tarbiyah, yaitu pembinaan generasi Muslim di atas Islam yang telah dibersihkan dari hal-hal yang telah disebutkan di atas, dengan sebuah pembinaan secara Islami yang benar sejak usia dini tanpa terpengaruh oleh pendidikan ala barat yang kafir.

Lewat buku karya Al Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas tersebut kami berdua banyak mengkaji, dan kami mantapkan lagi lewat ikut sertaan kami berdua dalam Dauroh terpisah sesi Ikwan dan Akwat yang diadakan didekat rumah kami dengan pembicaranya adalah Ustadz Didin Nuralam.

 

Kami adalah keluarga sederhana yang selalu ingin memperbaiki segala kekurangan, bermula dari Ibadah diikuti Akhlak dan berharap ridha Allah dan Surga Nya, kami menikmati setiap prosesnya, setiap perbedaan adalah hikmah, menggali ketidaktahuan dan berusaha istiqomah dijalan Allah, semoga semangat ‘mendekatkan diri pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan selalu melakukan Ibadah dan amalan sesuai dengan yang Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam ajarkan’ selalu terjaga.

Setiap Manusia lahir dimuka bumi ini tidak dapat memilih dia dilahirkan oleh siapa, bentuknya mau seperti apa, jenis kelaminnya apa dan agama juga namanya apa ? setiap yang kita lalui entah baik atau buruk itu adalah perjalanan hidup yang menentukan langkah kedepan, kita mau berada dimana? Pilihan lepas dari hari akhir hanya dua ; Surga? Neraka?

Melewati phase Balita, Anak-anak, Remaja dan akhirnya Dewasa adalah perjuangan mengharap ridha, kesalahan dalam pergaulan, pencapaian, kehidupan secara umum dan khusus juga masih ada potensi diperbaiki, dengan catatan ‘ada usaha’ memperbaiki bila kita tahu itu adalah kesalahan.

Mungkin kita pernah berpikir, bahwa kita tidak boleh memilih-milih dengan siapa kita berkawan, bekerjasama dan bersosialisasi, itu betul, tapi bila kita mendekat pada apa yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala perintahkan dan Rasulullah ajarkan, sepertinya kita harus lebih selektif dalam hal itu, lebih berhati-hati dalam menyikapi antara ‘Kebersamaan Mutlak’ dan ‘Mutlak Kebersamaan’

Allah Ta’ala berfirman:
وَلاَ تَرْكَنُوْا إِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
“Dan janganlah kalian condong kepada orang-orang yang zhalim yang menyebabkan kalian disentuh oleh api neraka.”
Dan dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari yang masyhur, Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- memperumpamakan teman duduk yang baik dengan penjual minyak wangi yang bisa memberikan manfaat kepada orang di dekatnya, sedangkan teman duduk yang jelek bagaikan pandai besi yang bisa memudharatkan orang di dekatnya
~ HR. Al-Bukhari dan Muslim.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Jalan HIJRAH Menuju Kaffah

Keluarga Oktafianus

Hanya untuk 20 Orang Muslim/Muslimah di Indonesia, GRATIS Insyaallah dikirim senin 13 agustus siang. . . Syarat dan Ketentuan : 1. Kirim Alamat Lengkap (Nama Penerima, Alamat, Kodepos, HP)kirim ke WA #08561016661 . . 2. HARUS DIBACA BUKAN HANYA UNTUK KOLEKSI . . . #syiarsyari #free #giveaway #sunnahway #gratis #asysyariah
*Bismillah..* *HIKMAH LARANGAN POTONG KUKU & RAMBUT BAGI SHAHIBUL QURBAN* Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, مَن كانَ لَهُ ذِبحٌ يَذبَـحُه فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ . ”Apabila engkau telah memasuki 10 pertama (bulan Dzulhijjah) sedangkan diantara kalian ingin berkurban maka janganlah dia menyentuh (memotong) sedikitpun bagian dari rambut dan kukunya.” (HR. Muslim) Berikut penjelasan dari syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, . “Jika ada orang yang bertanya, apa hikmah larangan memotong kuku dan rambut, maka kita jawab dengan 2 alasan: Pertama: Tidak diragukan lagi bahwa larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam pasti mengandung hikmah. Demikian juga perintah terhadap sesuatu adalah hikmah, hal ini cukuplah menjadi keyakinan setiap orang yang beriman (yaitu yakin bahwa setiap perintah dan larangan pasti ada hikmahnya baik yang diketahui ataupun tidak diketahui, pent) Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ Sesungguhnya jawaban orangorang mukmin, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukumi (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orangorang yang beruntung. (QS. an-Nur: 51) Kedua: Agar manusia di berbagai penjuru dunia mencocoki orang yang berihram haji dan umrah karena orang yang berihram untuk haji dan umrah juga tidak boleh memotong kuku dan rambut. . (diringkas dari Fatwa Nurun Alad Darb, link: http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_6303.shtml) Sumber: https://muslim.or.id/22788-hikmah-larangan-memotong-kuku-dan-rambut-bagi-shahibul-qurban.html 1 Dzulhijjah 1439 kira2 bertepatan dengan hari senin, 13 agustus 2018, bagi teman2 yg berkurban, bisa potong kuku dan rambut sebelum tanggal itu. *Semangat BerKurban yaaa*🐄🐄🐑🐏🐪🐂
Para ulama Salaf mengatakan bahwa ilmu itu di-datangi, bukan mendatangi. Tetapi, sekarang ilmu itu mendatangi kita dan tidak didatangi, kecuali beberapa saja. Jika kita tidak memanfaatkan majelis ilmu yang dibentuk dan pelajaran yang disampaikan, niscaya kita akan gigit jari sepenuh penyesalan. Seandainya kebaikan yang ada dalam majelis-majelis ilmu hanya berupa ketenangan bagi yang menghadirinya dan rahmat Allah yang meliputi mereka, cukuplah dua hal ini sebagai pendorong untuk menghadirinya. Lalu, bagaimana jika ia mengetahui bahwa orang yang menghadirinya -insya Allah- memperoleh dua keberuntungan, yaitu ilmu yang bermanfaat dan ganjaran pahala di akhirat?! Seorang Muslim hendaklah sadar bahwa Allah Ta’ala telah memberikan kemudahan kepada hamba-Nya dalam menuntut ilmu. Allah Ta’ala telah memberikan kemudahan dengan adanya beberapa fasilitas dalam menuntut ilmu, berbeda dengan zamannya para Salafush Shalih. Bukankah sekarang ini dengan mudahnya kita bisa dapatkan bekal untuk menuntut ilmu seperti uang, makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan?? Berbeda dengan para ulama Salaf, mereka sangat sulit mendapatkan hal di atas. Bukankah sekarang ini telah banyak didirikan masjid, pondok pesantren, majelis ta’lim, dan lainnya disertai sarana ruangan yang serba mudah, baik dengan adanya lampu, kipas angin, AC, dan lainnya??!! Bukankah sekarang ini berbagai kitab ilmu telah dicetak dengan begitu rapi, bagus, dan mudah dibaca??!! Lalu dimanakah orang-orang yang mau memanfaatkan nikmat Allah yang sangat besar ini untuk mengkaji dan mempelajari ilmu syar’i??? Bukankah sekarang sudah banyak ustadz-ustadz yang bermanhaj Salaf mengajar dan berdakwah di tempat (daerah) Anda, lantas mengapa Anda tidak menghadirinya?? Mengapa Anda tidak mau mendatangi majelis ilmu?? Sumber: https://almanhaj.or.id/3280-penghalang-dalam-menuntut-ilmu-niat-yang-rusak-ingin-terkenal-dan-ingin-tampil.html

Jazakumullah Khoir

  • 80,099 hits
%d bloggers like this: