Hari ini 12 Tahun yang lalu

Leave a comment

17/03/2017 by keluarga Oktafianus

Memang sudah kering luka Section Caesar yang saya alami dikelahiran anak pertama saya, Shinnichi Vega Kimirossi yang lahir tepat hari ini, 17 Maret 2005 dua belas tahun yang lalu, tapi seperti tidak menyangka anak bayi ini sekarang tumbuh besar dan InsyaaAllah jadi tauladan kedua adik-adiknya. Vega tumbuh berkembang begitu cepat, walau saya sempat khawatir dia akan bosan sekolah mengingat belum genap 1 tahun usianya Vega sudah sekolah, ada muatan ‘obsesi’ dan ‘ambisi’ yang berlebih terhadap anak pertama yang saya sadari sekarang bila mem flash back 12 tahun yang lalu, keinginan hampir semua orang tua dimana anaknya harus lebih baik dari orang tuanya.

Seperti berkaca terhadap apa yang saya sebagai Ibu yang melahirkannya lakukan selama dua belas tahun ini, tidak cukup mengingat saya pernah menghabiskan waktu di masa ‘golden age’ nya jauh dari fokus membina mental dan spiritualnya, kelalaian saya adalah ‘pemakluman’ yang saya tidak bisa serta merta accepted saat ini, Alhamdulillah Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegur saya segera, saya InsyaaAllah masih punya banyak kesempatan untuk memperbaiki kekurangan cara mendidik anak-anak saya dan memupukkan betapa pentingnya PENDIDIKAN AGAMA DIATAS PENDIDIKAN LAINNYA, saya hanya seorang Ibu yang pernah gagal dan berharap bisa memperbaiki kegagalan dan berharap Allah memaafkan khilaf saya selama 12 tahun ini.

Semenjak Hijrah kami sekeluarga, saya dan suami mulai menerapkan tashfiyah dan tarbiyah yang kami distribusikan terpisah juga kepada anak-anak kami sesuai dengan usia mereka. Ada beberapa perbaikan Ibadah yang tidak semua kami informasikan rata ke ketiga anak-anak kami, mengingat rentang usia mereka , Vega dan Ryu sudah belajar Tata Cara Shalat sesuai Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam ajarkan dengan kondisi khusus, untuk Vega ‘bacaannya pun sudah mulai kami ajarkan sesuai dengan yang Rasulullah ajarkan’ namun untuk Ryu Tata Cara Shalatnya sudah tapi ‘bacaanya belum sesuai dengan yang Rasulullah ajarkan’ masih menggunakan seperti umumnya diajarkan di pengajian dan sekolah, loh kok bisa, memang yang seperti di umumnya Pengajian dan Sekolah berbeda ???
Bila berminat mencari tahu kebenarannya dan coba mengecek ke shahih an nya, sempatkan membaca ini TATA CARA SHALAT RASULULLAH

Butuh proses dari mula hijrah kami sampai detik saya menulis ini, sampai saat ini pun kami berdoa semoga Istiqomah kami jangan sampai diujung tanduk, Hafizhanallah.

Kami sebagai orang tua berharap anak-anak kami mengenal Islam bukan hanya ‘karena orang tua mengajarkannya begitu’, harapan kami anak-anak kami bukan hanya jadi ISLAM KETURUNAN, tapi mereka bertiga menjadi Penuntut Ilmu di Jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan selalu memuliakan agamanya dan berlandas pada Al Quran dan As Sunnah bukan berdasar hanya pada ‘apa yg umumnya dilakukan org tuanya’ dan ‘umumnya dilakukan di sekelilingnya

Memurnikan Ajaran Islam kepada si Sulung, anak tengah dan si bungsu itu bukan PERKARA MUDAH, ditambah saya dan suami butuh ‘pintar-pintar’ mengistilahi ‘apa yang tidak sesuai dengan yang Rasulullah ajarkan’ dalam kehidupan di sekolah, dilingkungan terdekat dan lingkungan sekitar, kerap kami kuatkan si Sulung Vega dan Ryu untuk TEGAR DIATAS KITABULLAH DAN SUNNAH, SAMI’NA WA A’THONA, karena ;

“Sesungguhnya Pendengaran, Penglihatan, dan Hati, semua itu akan diminta pertanggungjawaban.”
~ QS. Al-Isra : 36

 

Khusus hari ini, saya pun rutin beberapa hari sebelum hari lahirnya mengingatkan Vega, untuk berhati-hati dalam menyikapi ‘kecendrungan’ dan ‘kebiasaan’ kita. Saya pun sempat ingatkan asal muasal terjadinya ulang tahun, dan memohon maaf atas kebodohan saya sebagai Ibunya yang selama 11 tahun membiarkan tradisi ini terjadi.

Merayakan ulang tahun merupakan sejarah lama. Orang-orang jaman dahulu tidak mengetahui dengan pasti hari kelahiran mereka, karena waktu itu mereka menggunakan tanda waktu dari pergantian bulan dan musim. Sejalan dengan peradaban manusia, diciptakanlah kalender. Kalender memudahkan manusia untuk mengingat dan merayakan hal-hal penting setiap tahunnya, dan ulang tahun merupakan salah satunya.

Mengapa perayaan ulang tahun harus menggunakan kue? Salah satu cerita mengatakan, karena waktu dulu bangsa Yunani menggunakan kue untuk persembahan ke kuil dewi bulan, Artemis. Mereka menggunakan kue berbentuk bulat yang merepresentasikan bulan purnama.

Simbol lain yang selalu menyertai kue ulang tahun adalah penggunaan lilin di atasnya. Orang Yunani yang mempersembahkan kue mereka ke dewi Artemis juga meletakkan lilin-lilin di atasnya karena membuat kue tersebut terlihat terang menyala sepeti bulan (gibbons, 1986).

Orang Jerman terkenal sebagai orang yang ahli membuat lilin dan juga mulai membuat lilin-lilin kecil untuk kue mereka. Beberapa orang mengatakan bahwa lilin diletakan dengan alasan keagamaan/religi. Beberapa orang Jerman meletakan lilin besar di tengah-tengah kue mereka untuk menandakan “Terangnya Kehidupan” (Corwin,1986). Yang lainnya percaya bahwa asap dari lilin tersebut akan membawa pengharapan mereka ke surga.

Alhamdulillah si sulung Vega pun mengerti dan semoga bukan karena takut saya marah, tapi tulus karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

=================================================================

Sikap Yang Islami Menghadapi Hari Ulang Tahun
Oleh Yulian Purnama (muslim.or.id)

Ada hari yang dirasa spesial bagi kebanyakan orang. Hari yang mengajak untuk melempar jauh ingatan ke belakang, ketika saat ia dilahirkan ke muka bumi, atau ketika masih dalam buaian dan saat-saat masih bermain dengan ceria menikmati masa kecil. Ketika hari itu datang, manusia pun kembali mengangkat jemarinya, untuk menghitung kembali tahun-tahun yang telah dilaluinya di dunia. Ya, hari itu disebut dengan hari ulang tahun.

Nah sekarang, pertanyaan yang hendak kita cari tahu jawabannya adalah: bagaimana sikap yang Islami menghadapi hari ulang tahun?

Jika hari ulang tahun dihadapi dengan melakukan perayaan, baik berupa acara pesta, atau makan besar, atau syukuran, dan semacamnya maka kita bagi dalam dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama, perayaan tersebut dimaksudkan dalam rangka ibadah. Misalnya dimaksudkan sebagai ritualisasi rasa syukur, atau misalnya dengan acara tertentu yang di dalam ada doa-doa atau bacaan dzikir-dzikir tertentu. Atau juga dengan ritual seperti mandi kembang 7 rupa ataupun mandi dengan air biasa namun dengan keyakinan hal tersebut sebagai pembersih dosa-dosa yang telah lalu. Jika demikian maka perayaan ini masuk dalam pembicaraan masalah bid’ah. Karena syukur, doa, dzikir, istighfar (pembersihan dosa), adalah bentuk-bentuk ibadah dan ibadah tidak boleh dibuat-buat sendiri bentuk ritualnya karena merupakan hak paten Allah dan Rasul-Nya. Sehingga kemungkinan pertama ini merupakan bentuk yang dilarang dalam agama, karena Rasul kita Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Orang yang melakukan ritual amal ibadah yang bukan berasal dari kami, maka amalnya tersebut tertolak” [HR. Bukhari-Muslim]

Perlu diketahui juga, bahwa orang yang membuat-buat ritual ibadah baru, bukan hanya tertolak amalannya, namun ia juga mendapat dosa, karena perbuatan tersebut dicela oleh Allah. Sebagaimana hadits,

أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ

Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’ “ (HR. Bukhari no. 7049)

Kemungkinan kedua, perayaan ulang tahun ini dimaksudkan tidak dalam rangka ibadah, melainkan hanya tradisi, kebiasaan, adat atau mungkin sekedar have fun. Bila demikian, sebelumnya perlu diketahui bahwa dalam Islam, hari yang dirayakan secara berulang disebut Ied, misalnya Iedul Fitri, Iedul Adha, juga hari Jumat merupakan hari Ied dalam Islam. Dan perlu diketahui juga bahwa setiap kaum memiliki Ied masing-masing. Maka Islam pun memiliki Ied sendiri. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

إن لكل قوم عيدا وهذا عيدنا

Setiap kaum memiliki Ied, dan hari ini (Iedul Fitri) adalah Ied kita (kaum Muslimin)” [HR. Bukhari-Muslim]

Kemudian, Ied milik kaum muslimin telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya hanya ada 3 saja, yaitu Iedul Fitri, Iedul Adha, juga hari Jumat. Nah, jika kita mengadakan hari perayaan tahunan yang tidak termasuk dalam 3 macam tersebut, maka Ied milik kaum manakah yang kita rayakan tersebut? Yang pasti bukan milik kaum muslimin.
Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda,

من تشبه بقوم فهو منهم

Orang yang meniru suatu kaum, ia seolah adalah bagian dari kaum tersebut” [HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Hibban]

Maka orang yang merayakan Ied yang selain Ied milik kaum Muslimin seolah ia bukan bagian dari kaum Muslimin. Namun hadits ini tentunya bukan berarti orang yang berbuat demikian pasti keluar dari statusnya sebagai Muslim, namun minimal mengurangi kadar keislaman pada dirinya. Karena seorang Muslim yang sejati, tentu ia akan menjauhi hal tersebut. Bahkan Allah Ta’ala menyebutkan ciri hamba Allah yang sejati (Ibaadurrahman) salah satunya,

والذين لا يشهدون الزور وإذا مروا باللغو مروا كراما

Yaitu orang yang tidak ikut menyaksikan Az Zuur dan bila melewatinya ia berjalan dengan wibawa” [QS. Al Furqan: 72]

Rabi’ bin Anas dan Mujahid menafsirkan Az Zuur pada ayat di atas adalah perayaan milik kaum musyrikin. Sedangkan Ikrimah menafsirkan Az Zuur dengan permainan-permainan yang dilakukan adakan di masa Jahiliyah.

Jika ada yang berkata “Ada masalah apa dengan perayaan kaum musyrikin? Toh tidak berbahaya jika kita mengikutinya”. Jawabnya, seorang muslim yang yakin bahwa hanya Allah lah sesembahan yang berhak disembah, sepatutnya ia membenci setiap penyembahan kepada selain Allah dan penganutnya. Salah satu yang wajib dibenci adalah kebiasaan dan tradisi mereka, ini tercakup dalam ayat,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” [QS. Al Mujadalah: 22]

Kemudian Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin –rahimahullah– menjelaskan : “Panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalannya.

Karena itulah, sebagian ulama tidak menyukai do’a agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan : “Semoga Allah memanjangkan umurmu” kecuali dengan keterangan “Dalam ketaatanNya” atau “Dalam kebaikan” atau kalimat yang serupa. Alasannya umur panjang kadang kala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk -semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka” [Dinukil dari terjemah Fatawa Manarul Islam 1/43, di almanhaj.or.id].

Jika demikian, sikap yang Islami dalam menghadapi hari ulang tahun adalah: tidak mengadakan perayaan khusus, biasa-biasa saja dan berwibawa dalam menghindari perayaan semacam itu. Mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan, kehidupan, usia yang panjang, sepatutnya dilakukan setiap saat bukan setiap tahun. Dan tidak perlu dilakukan dengan ritual atau acara khusus, Allah Maha Mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi di dalam dada. Demikian juga refleksi diri, mengoreksi apa yang kurang dan apa yang perlu ditingkatkan dari diri kita selayaknya menjadi renungan harian setiap muslim, bukan renungan tahunan.
Wallahu’alam.

=================================================================

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Jalan HIJRAH Menuju Kaffah

Keluarga Oktafianus

Hanya untuk 20 Orang Muslim/Muslimah di Indonesia, GRATIS Insyaallah dikirim senin 13 agustus siang. . . Syarat dan Ketentuan : 1. Kirim Alamat Lengkap (Nama Penerima, Alamat, Kodepos, HP)kirim ke WA #08561016661 . . 2. HARUS DIBACA BUKAN HANYA UNTUK KOLEKSI . . . #syiarsyari #free #giveaway #sunnahway #gratis #asysyariah
*Bismillah..* *HIKMAH LARANGAN POTONG KUKU & RAMBUT BAGI SHAHIBUL QURBAN* Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, مَن كانَ لَهُ ذِبحٌ يَذبَـحُه فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ . ”Apabila engkau telah memasuki 10 pertama (bulan Dzulhijjah) sedangkan diantara kalian ingin berkurban maka janganlah dia menyentuh (memotong) sedikitpun bagian dari rambut dan kukunya.” (HR. Muslim) Berikut penjelasan dari syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, . “Jika ada orang yang bertanya, apa hikmah larangan memotong kuku dan rambut, maka kita jawab dengan 2 alasan: Pertama: Tidak diragukan lagi bahwa larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam pasti mengandung hikmah. Demikian juga perintah terhadap sesuatu adalah hikmah, hal ini cukuplah menjadi keyakinan setiap orang yang beriman (yaitu yakin bahwa setiap perintah dan larangan pasti ada hikmahnya baik yang diketahui ataupun tidak diketahui, pent) Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ Sesungguhnya jawaban orangorang mukmin, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukumi (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orangorang yang beruntung. (QS. an-Nur: 51) Kedua: Agar manusia di berbagai penjuru dunia mencocoki orang yang berihram haji dan umrah karena orang yang berihram untuk haji dan umrah juga tidak boleh memotong kuku dan rambut. . (diringkas dari Fatwa Nurun Alad Darb, link: http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_6303.shtml) Sumber: https://muslim.or.id/22788-hikmah-larangan-memotong-kuku-dan-rambut-bagi-shahibul-qurban.html 1 Dzulhijjah 1439 kira2 bertepatan dengan hari senin, 13 agustus 2018, bagi teman2 yg berkurban, bisa potong kuku dan rambut sebelum tanggal itu. *Semangat BerKurban yaaa*🐄🐄🐑🐏🐪🐂
Para ulama Salaf mengatakan bahwa ilmu itu di-datangi, bukan mendatangi. Tetapi, sekarang ilmu itu mendatangi kita dan tidak didatangi, kecuali beberapa saja. Jika kita tidak memanfaatkan majelis ilmu yang dibentuk dan pelajaran yang disampaikan, niscaya kita akan gigit jari sepenuh penyesalan. Seandainya kebaikan yang ada dalam majelis-majelis ilmu hanya berupa ketenangan bagi yang menghadirinya dan rahmat Allah yang meliputi mereka, cukuplah dua hal ini sebagai pendorong untuk menghadirinya. Lalu, bagaimana jika ia mengetahui bahwa orang yang menghadirinya -insya Allah- memperoleh dua keberuntungan, yaitu ilmu yang bermanfaat dan ganjaran pahala di akhirat?! Seorang Muslim hendaklah sadar bahwa Allah Ta’ala telah memberikan kemudahan kepada hamba-Nya dalam menuntut ilmu. Allah Ta’ala telah memberikan kemudahan dengan adanya beberapa fasilitas dalam menuntut ilmu, berbeda dengan zamannya para Salafush Shalih. Bukankah sekarang ini dengan mudahnya kita bisa dapatkan bekal untuk menuntut ilmu seperti uang, makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan?? Berbeda dengan para ulama Salaf, mereka sangat sulit mendapatkan hal di atas. Bukankah sekarang ini telah banyak didirikan masjid, pondok pesantren, majelis ta’lim, dan lainnya disertai sarana ruangan yang serba mudah, baik dengan adanya lampu, kipas angin, AC, dan lainnya??!! Bukankah sekarang ini berbagai kitab ilmu telah dicetak dengan begitu rapi, bagus, dan mudah dibaca??!! Lalu dimanakah orang-orang yang mau memanfaatkan nikmat Allah yang sangat besar ini untuk mengkaji dan mempelajari ilmu syar’i??? Bukankah sekarang sudah banyak ustadz-ustadz yang bermanhaj Salaf mengajar dan berdakwah di tempat (daerah) Anda, lantas mengapa Anda tidak menghadirinya?? Mengapa Anda tidak mau mendatangi majelis ilmu?? Sumber: https://almanhaj.or.id/3280-penghalang-dalam-menuntut-ilmu-niat-yang-rusak-ingin-terkenal-dan-ingin-tampil.html

Jazakumullah Khoir

  • 80,099 hits
%d bloggers like this: