Meninggalkan Hal-Hal Yang Bukan Urusannya

Leave a comment

23/03/2017 by keluarga Oktafianus

👤 Ustadz Firanda Andirja, MA
📗 Kitābul Jāmi’ | Bab Zuhud Dan Wara’
🔊 Hadits 08 | Meninggalkan Hal-Hal Yang Bukan Urusannya

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Kita masuk pada hadits yang ke-8.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم : “مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ، تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ.” رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَسَنٌ.

Dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, beliau berkata: Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Diantara keelokan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang bukan urusannya.”
(HR Tirmidzi, ia berkata: “Hadits yang hasan.”)

Hadits ini adalah hadits yang sangat agung, yang mengajarkan adab yang sangat tinggi, karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam membuka hadits ini dengan berkata, “Diantara keelokan Islam seseorang.”

Jadi kita bisa mengukur keelokan Islam seseorang yaitu dengan melihat bagaimana kegiatan dia.

Kalau kegiatan yang dia lakukan (baik perkataan maupun perbuatannya) berkaitan dengan urusan yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat, maka ini adalah orang yang Islamnya indah.

Tapi ada orang yang kesibukannya pada perkara-perkara yang tidak bermanfaat dan yang bukan urusannya, seperti:

• Nimbrung dengan urusan orang lain,
• Komentar dengan perkara-perkara yang bukan bidangnya,
• Ikut ingin tahu urusan-urusan orang lain,
• Menghabiskan waktu pada yang tidak bermanfaat,

Maka (ini) Islamnya tidak indah.

⇒ Dan yang dimaksud dengan “urusan” disini adalah urusan yang bermanfaat yang ditentukan oleh syari’at.

Bukan sibuk dengan “urusan” yang dia kehendaki (menurut pikiran dia), karena setiap orang mempunyai urusan, tapi banyak dari urusan-urusan tersebut yang tidak bermanfaat.

Seseorang hendaknya berusaha menyibukkan dirinya dengan perkara yang bermanfaat bagi dirinya di dunia maupun di akhirat.

Jadi, maksud dari hadits adalah supaya kita sibuk dengan urusan kita sendiri, namun dengan syarat urusan yang bermanfaat menurut syari’at.

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Kita sekarang hidup di zaman (terutama di zaman media sosial saat ini) yang terdapat banyak sekali perkara yang tidak bermanfaat yang membuat kita tersibukkan.

Seseorang memiliki banyak teman di Facebook dan banyak grup di WhatsApp sehingga banyak berita yang masuk yang sebenarnya tidak perlu buat dia, terkadang memang perlu namun bukan primer.

Karena setiap orang yang mempunyai Facebook kebanyakan mempunyai hobi untuk nge-share, baik masalah kesehatan, keluarga, makanan, berita artis, macam-macam di share.

Akhirnya, masuk juga dalam “HP” kita dan kitapun ikut membaca.

Oleh karenanya, di zaman seperti ini, dengan kita memperbanyak teman akan memperbanyak berita yang masuk kepada kita, sehingga (akibatnya) memenuhi “hard disk” yang ada di kepala kita.

Karena sudah penuh maka untuk memasukkan Al Qurān sudah tidak ada tempatnya dan untuk memasukkan hadits juga kurang tempatnya.

Akhirnya banyak kesibukan kita habiskan dengan perkara-perkara yang tidak bermanfaat.

Maka jadilah Islam kita bukan Islam yang indah.

Belum lagi, tatkala kita melihat berita-berita tersebut kita juga hobi untuk komentar; komentar ini, komentar anu, komentar-komentar….

Sudah beritanya tidak bermanfaat, kita komentarin lagi, sehingga tidak bermanfaat plus tidak bermanfaat.

Bagaimana mau dikatakan Islam kita Islam yang indah?

Oleh karenanya, seseorang di zaman seperti ini hendaknya sibuk dan buatlah kegiatan yang bermanfaat, agar dia tidak terkena dengan kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat.

Karena, kata para ulama dalam suatu perkataan yang indah:

مَنِ اشْتَغَلَ بِمَا لا يَعْنِيهِ فَاتَهُ مَا يَعْنِيهِ

“Barangsiapa yang sibuk dengan perkara yang tidak bermanfaat bagi dia maka banyak perkara yang bermanfaat yang luput dari dia.”

Yang seharusnya dia punya waktu untuk:
• Menghafal Al Qurān
• Belajar hadits
• Berbakti sama orang tua
• Telepon orang tua
• Memberi waktu untuk anak-anaknya
• Membahagiakan istri dan anaknya

Namun, gara-gara banyak teman, banyak berita yang masuk, banyak komentar, akhirnya waktu menjadi terbuang sia-sia.

Seorang Muslim harus sibuk dengan perkara yang bermanfaat, baik baginya dan keluarganya, di dunia maupun di akhirat.

Bayangkan, seseorang mempunyai Whatsapp sampai 50 grup, misalnya.

Alhamdulillāh kalau ternyata grupnya grup BiAS atau grup yang lain yang bermanfaat.

Tetapi kalau grup ini, grup anu, grup itu dan membuka Whatsapp ada gambar orang tertawa, tulisan kabur, ada gambar ini, gambar anu, ada grup macam-macam, yang terkadang tidak bermanfaat.

Kalau punya grup hendaknya grup tertentu yang bermanfaat, misalnya grup untuk silaturrahmi, grup kakak adik, grup kerabat, tidak jadi masalah.

Silaturrahmi lewat Whatsapp, alhamdulillāh.

Grup pengajian, tidak jadi masalah.

Kalau mempunyai teman di Facebook sampai 5.000 teman, buat apa teman banyak-banyak?

Kalau untuk dakwah, alhamdulillāh. Tapi kalau tidak untuk dakwah, akhirnya banyak berita yang masuk.

Bukan mendakwahi mereka malah kita yang didakwahi oleh mereka, karena masing-masing teman tersebut men-share macam-macam dan kita ikut baca.

Oleh karenanya para ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla,

Diantara bentuk zuhud dan wara’ yaitu kita menyibukkan diri kita dengan perkara yang bermanfaat, sedangkan yang tidak bermanfaat kita tinggalkan.

Dan jangan sibuk dengan urusan orang lain, sibuk urusi diri Anda sendiri !

Anda tidak masuk dalam urusan orang lain kecuali kalau ingin memberi manfaat kepadanya atau ingin menolongnya, itu baru bagus !

Tapi kalau hanya masuk dalam urusan orang lain, ingin tahu, ingin ikut nimbrung, tanpa ada sumbangsih yang bisa kita berikan, maka tidak perlu.

Demikian.

والله أعلم بالصواب
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

 

🌍BimbinganIslam.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Jalan HIJRAH Menuju Kaffah

Keluarga Oktafianus

Hanya untuk 20 Orang Muslim/Muslimah di Indonesia, GRATIS Insyaallah dikirim senin 13 agustus siang. . . Syarat dan Ketentuan : 1. Kirim Alamat Lengkap (Nama Penerima, Alamat, Kodepos, HP)kirim ke WA #08561016661 . . 2. HARUS DIBACA BUKAN HANYA UNTUK KOLEKSI . . . #syiarsyari #free #giveaway #sunnahway #gratis #asysyariah
*Bismillah..* *HIKMAH LARANGAN POTONG KUKU & RAMBUT BAGI SHAHIBUL QURBAN* Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, مَن كانَ لَهُ ذِبحٌ يَذبَـحُه فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ . ”Apabila engkau telah memasuki 10 pertama (bulan Dzulhijjah) sedangkan diantara kalian ingin berkurban maka janganlah dia menyentuh (memotong) sedikitpun bagian dari rambut dan kukunya.” (HR. Muslim) Berikut penjelasan dari syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, . “Jika ada orang yang bertanya, apa hikmah larangan memotong kuku dan rambut, maka kita jawab dengan 2 alasan: Pertama: Tidak diragukan lagi bahwa larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam pasti mengandung hikmah. Demikian juga perintah terhadap sesuatu adalah hikmah, hal ini cukuplah menjadi keyakinan setiap orang yang beriman (yaitu yakin bahwa setiap perintah dan larangan pasti ada hikmahnya baik yang diketahui ataupun tidak diketahui, pent) Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ Sesungguhnya jawaban orangorang mukmin, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukumi (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orangorang yang beruntung. (QS. an-Nur: 51) Kedua: Agar manusia di berbagai penjuru dunia mencocoki orang yang berihram haji dan umrah karena orang yang berihram untuk haji dan umrah juga tidak boleh memotong kuku dan rambut. . (diringkas dari Fatwa Nurun Alad Darb, link: http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_6303.shtml) Sumber: https://muslim.or.id/22788-hikmah-larangan-memotong-kuku-dan-rambut-bagi-shahibul-qurban.html 1 Dzulhijjah 1439 kira2 bertepatan dengan hari senin, 13 agustus 2018, bagi teman2 yg berkurban, bisa potong kuku dan rambut sebelum tanggal itu. *Semangat BerKurban yaaa*🐄🐄🐑🐏🐪🐂
Para ulama Salaf mengatakan bahwa ilmu itu di-datangi, bukan mendatangi. Tetapi, sekarang ilmu itu mendatangi kita dan tidak didatangi, kecuali beberapa saja. Jika kita tidak memanfaatkan majelis ilmu yang dibentuk dan pelajaran yang disampaikan, niscaya kita akan gigit jari sepenuh penyesalan. Seandainya kebaikan yang ada dalam majelis-majelis ilmu hanya berupa ketenangan bagi yang menghadirinya dan rahmat Allah yang meliputi mereka, cukuplah dua hal ini sebagai pendorong untuk menghadirinya. Lalu, bagaimana jika ia mengetahui bahwa orang yang menghadirinya -insya Allah- memperoleh dua keberuntungan, yaitu ilmu yang bermanfaat dan ganjaran pahala di akhirat?! Seorang Muslim hendaklah sadar bahwa Allah Ta’ala telah memberikan kemudahan kepada hamba-Nya dalam menuntut ilmu. Allah Ta’ala telah memberikan kemudahan dengan adanya beberapa fasilitas dalam menuntut ilmu, berbeda dengan zamannya para Salafush Shalih. Bukankah sekarang ini dengan mudahnya kita bisa dapatkan bekal untuk menuntut ilmu seperti uang, makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan?? Berbeda dengan para ulama Salaf, mereka sangat sulit mendapatkan hal di atas. Bukankah sekarang ini telah banyak didirikan masjid, pondok pesantren, majelis ta’lim, dan lainnya disertai sarana ruangan yang serba mudah, baik dengan adanya lampu, kipas angin, AC, dan lainnya??!! Bukankah sekarang ini berbagai kitab ilmu telah dicetak dengan begitu rapi, bagus, dan mudah dibaca??!! Lalu dimanakah orang-orang yang mau memanfaatkan nikmat Allah yang sangat besar ini untuk mengkaji dan mempelajari ilmu syar’i??? Bukankah sekarang sudah banyak ustadz-ustadz yang bermanhaj Salaf mengajar dan berdakwah di tempat (daerah) Anda, lantas mengapa Anda tidak menghadirinya?? Mengapa Anda tidak mau mendatangi majelis ilmu?? Sumber: https://almanhaj.or.id/3280-penghalang-dalam-menuntut-ilmu-niat-yang-rusak-ingin-terkenal-dan-ingin-tampil.html

Jazakumullah Khoir

  • 80,099 hits
%d bloggers like this: