Naik Pesawat keluar negeri Berniqab/ bercadar

1

29/11/2017 by keluarga Oktafianus

Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmush-shoolihaat

Tahun 2017 yang luar biasa sibuknya, suami yang sedang banyak jadwal perlombaan baik dalam dan luar negeri ditambah lagi dengan jadwal event pameran di tempat saya bekerja yang cukup padat, membuat kami nyaris kehilangan waktu full team bersama dalam formasi lengkap, yang ada kalau gak saya dan ketiga anak-anak kami, atau suami dengan ketiga anak-anak kami, jadilah kami putuskan memaksakan waktu yang harus di-set up untuk formasi lengkap, dan inilah saatnya berpetualang ke negeri orang !

Petualangan kali ini mungkin sama seperti tahun sebelumnya, masih seputar Singapura dan Malaysia, bedanya kali ini saya bercadar bukan hanya berbusana syar’i dengan bergamis dan berkhimar lebar saja. Bepergian menggunakan moda pesawat terbang ini sebenarnya sudah sempat saya jalani beberapa kali selama saya memutuskan bercadar, bersama team saya untuk urusan kantor, Perdana Bercadar naik pesawat ke Bali dan diikuti area lainnya setelahnya seperti Makassar, Surabaya, Medan, Aceh, Semarang, Yogya, Solo dan selama dari proses masuk gate keberangkatan sampai naik ke pesawat tidak pernah mengalami kendala atau perlakuan yang tidak wajar, bahkan sampai turun pesawat, ambil bagasi dan menunggu jemputan pun tidak pernah saya mendapat perlakuan yang tidak wajar, suami saya selalu bilang, kuncinya “ikuti aturan” jangan bawa sesuatu yang mencurigakan dan jangan takut bila harus diperiksa lebih detail dan tetap hati-hati, jangan tertidur jangan lengah, khawatir orang menyusupkan sesuatu dibarang bawaan kita, Wallahu’alam.

Selama packing suami ingatkan saya dan anak-anak, hati-hati dengan sekeliling, jangan sampai bengong atau terlelap, khawatir ada orang jahat yang memanfaatkan kita.
Anak-anak kami happy banget, exciting karena harusnya bulan Mei mereka jalan, qadarullah kami ada udzur, sehingga diundur sampai sekarang ini, saya dan suami masih agak deg-deg an, ini perdana saya keluarga negeri dengan bercadar, karena tahun lalu berbusana syar’i saja membawa anak-anak tetap agak deg-deg an, khawatir disangka agen human trafficking atau apalah, ketakutan yang wajar kalau kami pikir, karena berita yang tersebar dengan bebas zaman now kadang membuat was was yang berlebihan, InsyaaAllah jikalau Allah ridho hal buruk tidak akan terjadi selama kami taat pada aturan, andai tetap terjadi pun, itu kehendak Allah.

Pagi cerah, dari gerbang keberangkatan kami disambut petugas ramah yang membantu saya dan mengatur lini antrian di area cek bagasi, dan petugas check in airline yang kami gunakan pun sangat sigap memberikan Jethro permen supaya dia tidak mainan trolley didepan counter check in, hehhehe. So far selama proses sampai masuk pesawat benar-benar tidak ada yang tidak wajar.

Di bandara Changi, jujur saya pribadi agak ‘nervous’ … tapi lihat anak-anak happy dan benar-benar menikmati perjalanan membuat rasa gusar saya pun hilang, sesekali suami mengingatkan, istigfar kalau kepikir yang macam-macam. Immigration Check Singapura kenapa mendadak horror ya, hehhee… selama ini kalau kesini cuek saja melenggang sampai ke lantai bawah, anak-anak langsung cari antrian kosong, karena baru-baru ini suami tugas luar, sempat stock disembarkation card buat disimpan jadi gak perlu ngisi dipesawat atau disana biar ga ribet, sampai immigration check in langsung ngacir ngantri, saya langsung pilih petugas counter wanita, dengan menggendong Jethro saya melewati proses pengecekan, lancar. Ibu petugas meminta saya menyingkap cadar untuk memastikan saja, karena saya agak grogi saya mau buka, tapi si Ibu petugas langsung bilang, jangan dibuka, dia hanya ingin lihat mukanya sedikit saja, singkap saja… MasyaaAllah.

Alhamdulillah.

Di MRT menuju hotel pun semua berjalan lancar, hehehhe… palingan ada 1 orang anak kecil yang naik dari Expo nyeletuk ngomong sama Ibu nya, kalau ada Ninjago, hahahha…. Anak saya langsung bilang “ hmm mommy, is that kid annoying you? How dare he calls you’re ninjago…” (mukanya Vega merengut, BT sambil dia ngoceh-ngoceh kasih tau Ryu ama Jethro kalau emaknya dipanggil ninjago), Ibu nya tuh anak langsung diam, dan anaknya disuruh berenti ngoceh… kaget kali dia, dikira anak-anak gak ada yang ngerti dia ngomong apa, even in Zhōngwén hahahha…

Oiya, bicara masalah bahasa, kadang saya juga antara deg deg-an ama bersyukur, kami dikarunia anak-anak yang mother language nya Alhamdulillah Bahasa Inggris, saat di toilet Bandara Soekarno Hatta, saya bawa Jethro ikut serta karena Vega, Ryu dan Daddy nya lagi pada asik bikin live story IG ama konyol2an boomerang, hadeh. Di Toilet Jethro ngoceh terus, anak 4 tahun ini mungkin membuat Ibu Darma Wanita (sepertinya, soalnya dandanannya necis berat, wanginya joss, semacam Elizabeth Arden Green Tea lah) ini akhirnya memberanikan diri menanyakan saya asli dari mana dengan ((( bahasa inggris ))) hahahha, saya singkap cadar saya dan ucapkan salam dan saya bilang saya orang Tangerang, sebelum ibu tanyakan saya akan jawab, suami saya bukan bule bu, Ibu tersebut tersenyum dan bilang, “hehehhe… saya pikir orang thailand malah tadi”, makin tersipu saya, dilihat dari mana ya, hahahha. Kami terlibat pembicaraan santai sampai akhirnya berpisah ke tempat tunggu masing-masing. Inilah gunanya adab, Alhamdulillah Asatidz sunnah yang saya sering datangi kajiannya selalu ajarkan kami akhwat bercadar untuk menyingkap cadarnya saat di kajian ilmu yg isinya akhwat semua, atau singkaplah cadar jika bertemu sesama wanita agar tidak terjadi fitnah dalam satu ruangan tertutup yang isinya jelas hanya wanita, ada hikmah yang dipetik.

Anak-anak punya kebiasaan kalau sampai Singapura pasti yang dikejar Burger King yang ada di dekat Bugis Street, antri, males, tapi ya sudahlah… karena kelar order BK langsung merapat ke 7Eleven yg ada disejajarnya untuk beli Slurpee, kaya harus banget kaya begitu saban kemari, gak ada bosennya, mengantri diantara warga singapura kebanyakan, warga keturunan india dan para bule dari Negara lain dengan busana seperti yang saya kenakakan sekarang memang agak berbeda perasaannya, tapi Alhamdulillah, tidak ada yg minggir takut dekat saya atau melakukan perlakuan tidak wajar ke saya, Alhamdulillah.

Aktivitas yang kami lakukan selama di singapura, siang dan malam pun tidak ada yang berubah seperti biasa kami ke sini, tidak ada yg mencibir, dan sebagainya…
Lalu kami melanjutkan perjalanan lagi ke tempat yang memang mau dituju oleh anak-anak kami, Legoland, bosen, banget… ini adalah ke Legoland yang ke 4 kalinya dan mereka tidak pernah merasa bosan. Moda transportasi ke Johor Bahru, Malaysia yang biasa kami gunakan adalah BUS/ MRT, kali ini kami pilih MRT sampai Jurong, dan dilanjutkan dengan bus sampai tepat di depan Legoland, menuju kesana ada 2 proses yang harus kami lewati, keluar imigrasi Singapura dan Masuk imigrasi Johor bahru, Alhamdulillah sama seperti biasa kami kesini semua berjalan lancar, karena mungkin saya bisa memilih petugasnya wanita dikarenakan kami berangkat bukan saat sedang peak season, jadi antriannya pun masih masuk kategori wajar, walau antri juga. Khususnya saya, sam

pai saat perjalanan ini sangat merasa senang, karena tidak terjadi hal yang saya khawatirkan.

Kebiasaan saya dan suami bila di Negara orang, saat malam anak-anak sudah tidur, kami suka jalan pacaran, hehehe… entah makan malam diluar atau sekedar belanja perlengkapan di supermarket, berduaan saja. Alhamdulillah, tidak ada yang berbeda juga, moda kendaraan yang kami pakai umumnya uber atau grab selama di Johor Bahru.

Di Legoland tidak ada yang berbeda, karena mayoritas di Malaysia adalah muslim, jadi tidak terlalu sulit bagi saya untuk menata kekhawatiran, kami lanjut ke Thomas Town, di Putri Harbour dan chillin’ lagi di apartment menikmati suasana Johor Bahru yang sedang getol pembangunan sana sini.

Pulang Ke Singapura menggunakan Bus Causeway Link yang InsyaaAllah sampai di Lavender Street, keluar Imigrasi Johor berjalan sangat lancar, dan sampai masuk ke Imigrasi Singapura, yang dikhawatirkan terjadi, suami saya kena random check, jadilah saya dan anak-anak keluar imigrasi duluan sementara suami dan beberapa lainnya yang kena random check digiring oleh polisi singapura ke kantor imigrasi, suami bawa Jethro karena posisinya sedang tertidur, gak tega kalau saya yang bawa ujarnya, anak-anak menanyakan kenapa daddy-nya digiring polisi, saya hanya bisa menjawab, “Wallahu’alam”

Suami saya sama sekali tidak tegang, dia berpikir ..lah wong gw ga ngapa2in dan gak bawa apa2 yg membahayakan, pikiran saya sudah bercabang-cabang, duh apa karena suami saya celananya cingkrang dan jenggotnya panjang, trus kenapa bukan saya yang diangkut, kan saya pakai cadar baju hitam-hitam, mungkinkah kami mau nge-bom singapura gitu mungkin dalam pikirannya. Di tangga CIQ Woodlands kami menunggu Daddy dan Jethro kembali.

Hampir 1 jam Alhamdulillah suami saya dan Jethro yang masih tertidur keluar, berentet pertanyaan saya lontarkan kenapa? Kenapa? Kenapa?

“ Enggak ada apa-apa Mommy, itu cuma pemeriksaan rutin, Qadarullah kenanya ke daddy, disana ditanya, bawa uang berapa, ngapain aja di johor, mau ngapain ke singapura, dia lihat baru-baru ini ke Malaysia ngapain, mungkin dia berpikir dad kerja illegal kali, terus kapan pulang, pakai apa dll, ya dad jawab aja… lah wong ga ada yang perlu ditutupi”

Saya lihat beberapa lainnya pun menceritakan pada pihak keluarga yang menunggu … dan kami tinggalkan area tersebut untuk mencari bus Causeway Link menuju Lavender St.

Menetap di singapura dan akhirnya pulang lagi ke Indonesia, tidak ada masalah berarti… semua berjalan lancar, Alhamdulillah.

Walaupun Suami saya berjenggot dan celananya cingkrang beliau berpikir semua masih sesuai prosedur pemeriksaan, tidak sampai di asingkan atau diintimidasi, Alhamdulillah. Dan awal tahun suami akan ke Jepang, semoga Allah mudahkan proses apply Visa nya.

Kami memang baru ke area seputar asia, tidak tahu bila eropa atau amerika, andai aja ada uang untuk itu, kami lebih prefer ke Makkah daripada kesana. InsyaaAllah.

Saya makin nyaman bercadar, karena seperti di ruang tunggu, dikeramaian, diantrian, banyak orang yang malah memberi kesempatan bagi saya untuk didahulukan, saya berharap semoga bukan karena mereka takut saya membawa bom ya
Saya yakin, bercadar pun harus ada adab mengikutinya, InsyaaAllah saya dan beberapa akhwat bercadar lainnya selalu Allah Azza Wa Jalla beri pemahaman lurus yang haq sehingga tidak akan mencoreng syariat agama Islam dalam tingkah lakunya, Allahul Musta’an.

Saya jadi ingat kejadian saat pembuatan E-KTP, MasyaaAllah… Negara kita ini pemerintahannya cukup santun sampai saya haru, saat giliran saya photo, para petugas meminta yang lain yang sedang antri (kebanyakan pria) untuk menunggu diluar dulu antrinya, hanya suami saya yang tersisa, dan petugas kecamatan yang photo ijin dulu ke suami saya, suami saya dengan singkat mengiyakan, karena memang kami berdua juga sedang diburu waktu, saya harus balik ke kantor dan suami harus jalan ngajar. Sungguh, saya bahagia bisa bercadar dan sekeliling saya tidak memperlakukan saya tidak wajar karena busana yang saya kenakan, malah keberadaan saya yang bercadar dipertimbangkan perlakuannya didepan umum, terima kasih petugas E-KTP yang saya lupa namanya, Jazaakullah Khoir.

Semoga cerita nyata ini memantapkan langkap ummahat lain untuk menyempurnakan menghijabi dirinya dan mohon dibarengi dengan akhlaknya juga, ini doa pastinya teruntuk diri saya juga … khawatir malah jadi fitnah… dan orang lain semua jadi phobia melihat wanita bercadar, karena ulah kita tidak bisa menjaga adab kita dengan akhlak yang baik.

One thought on “Naik Pesawat keluar negeri Berniqab/ bercadar

  1. […] Oiya baca juga ya Pengalaman Perdana : Bepergian ke Luar Negeri dengan bercadar […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Jalan HIJRAH Menuju Kaffah

Jazakumullah Khoir

  • 95,163 hits
%d bloggers like this: